Jumat, 07 Juli 2017

Temuan Tak Biasa

Sebenarnya, mereka itu sudah lama tertidur di dalam tanah.


Cukup dalam sehingga bahkan mataku, matamu juga tidak akan mampu melihatnya jika kamu atau aku tidak mencoba menggalinya. Dan harus cukup dalam bermeter-meter ke tanah. Dia membeku dan terttidur di sana. Pagi itu aku menemukan satu yang sudah tua yang telah membatu. Terperangkap dalam tanah yang dalam. Selama aku menggali tanah, baru kali ini aku melihat batuan yang kerasnya lebih keras dari batu.

Dan ada seorang wanita cantik yang sedang menyapu bebatuan dengan kuasnya. Pelan sekali seperti mengusap sesuatu yang rapuh, seperti bayi yang lemah dan sedikit keras saja mampu membuatnya terluka. Kata wanita itu,"Kamu tahu, kamu membawa satu yang sangat langka." Kalimat yang keluar dari bibir merah natural dengan sebatang rokok yang menyala dan sesekali tangannya membenahi letak kaca matanya.

  "Maksudmu, itu bukan seperti kayu atau tulang binatang yang membatu lainnya?"
  "Ya, barang itu terlindungi dengan baik di dalam tanah. Pelindung yang keras seperti cangkang kura-kura,    kukira bahkan mirip kulit armadillo. Ya, binatang yang suka bergelung itu, mungkin ini bukan nenek buyutnya, tapi ini sebangsa ikan mungkin."
   "Oh begitu." Aku hanya berguman-gumam saja setelahnya. Seperti paham, tapi tidak. Hanya kalimat itu saja, takjub.

Aku kembali menatap onggokan batu itu kukira ini semacam batuan yang banyak ditemukan di Lesvos, tapi mungkin ini beda. Batu yang kami gotong dari lokasi tambang itu tampak beda, kami menjaganya seperti bayi, membawanya dengan hati-hati. Dia seperti membuat bunker untuk dirinya sendiri dalam tanah, melindunginya dari pengikisan.

Wanita itu masih sibuk dengan kuas dan peralatan komputernya. Satu hal saja, dia cantik.

***

Sesaat aku menjadi lega dengan penemuan itu. Penemuan itu seperti halnya penemuan hebat ilmuwan, kepuasan yang kurasakan selama beberapa hari. Meskipun itu bukan sesuatu yang aku cari, bukan pula kuusahakan dengan susah payah, ya mungkin hanya pengangkutan yang sedikit ribet, selebihnya itu hanya sesuatu yang terjadi begitu saja. Ya, begitu saja datang, tanpa susah payah mencarinya, seperti kabar baik yang datang begitu saja suatu hari.

Kadang kalau aku pikir, sebenarnya kebahagiaan dan kebanggaan yang aku rasakan ini hanya beberapa hari saja. Misalnya saja kemarin aku masuk ke sebuah tempat makan, orang-orang mengenaliku dari berita TV dan koran. Kemudian beberapa orang meminta berfoto, lalu mengunggahnya. Kelihatannya dia begitu senang, jadi kukira tidak salah aku menikmati ketenaran sementara ini. Juga beberapa kawanku yang lain.

Sesekali saat akan tidur di sisi istriku yang sudah terlelap aku berpikir, apa yang sudah aku lakukan? kebaikan apa yang sudah kulakukan hingga hal ini tiba-tiba mampir di hidupku. Setelah kupikirkan, aku hanyalah laki-laki membosankan yang hidup dengan rutinitas itu-itu saja. Sarapan sebelum berangkat ke tambang, mengeruk-ngeruk tanah seperti ayam mengais makanan, mesin besar yang meraung berisik. Istirahat minum kopi dan makan siang di kantin dekat pertambangan. Melanjutnya kerja sampai sore, lalu pulang ke rumah lagi, kadang mampir pom bensin, atau belanja sesuatu yang dibutuhkan istriku. Makan malam setelah mandi, ya begitu-begitu saja setiap hari. Tidak ada yang istimewa. Mungkin selama ini pun aku merasa cukup dengan hidupku. Setidaknya anakku dapat bersekolah dengan gajiku, istriku bisa berbelanja di mall sesekali, dan tiap akhir pekan tertentu kami berkumpul di rumah ibunya untuk makan malam. Sesuatu yang kami terima dan kami tidak mengeluh untuk itu.

Atau mungkin tuhan memberi sedikit kejutan dalam hidupku. Pada kota kecil yang adem ayem ini. Keributan media dan wartawan memenuhi kota ini sekarang, menambah pemasukan restoran, toko bahkan pom bensin. Kukira itu bukan lumayan lagi, tapi berkah. Berkah yang bahkan jika tidak aku pikirkan sebelum tidur ini hanya sebuah kejadian biasa. Sesuatu yang tidak terpikirkan yang datang begitu saja.

Tapi mungkin aku melupakan sesuatu, doa istriku setiap malam, untukku, untuk kehidupan payah yang kuberikan padanya. Mungkin anakku bertanya pada tuhan, kenapa ayah payahnya yang gendut berperut buncit sangat menyukai minum dan sesekali setiap bulan mengajaknya jalan-jalan ke kota, memancing, kenapa begitu membosankan. Jadi dia meminta pada tuhan untuk membuat ayahnya sedikit saja keren, sedikit saja, agar tidak terlalu membosankan baginya.

Ada sedikit kebanggaan diam-diam saat kami duduk makan malam setelah penemuan batuan itu. Senyumnya saat menatapku, seperti aku bukan ayahnya yang kemarin, seperti seseorang yang lebih lumayan. Yah begitulah, kadang aku terlalu pesimis dengan kemujuran, aku hanya berjalan dan menjalani kehidupanku biasanya. Jadi kupikir semua ini karena sesuatu yang lain, yang kusebutkan tadi.

***
*Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.