Senin, 27 April 2015

Sukadra dan Semut di Telinga

Maruta memiliki anak dari kelima istrinya bahkan jumlahnya cukup dihitung dengan kedua jari tangan dan kaki. Tetapi Maruta yang kadangmerasa dirinya Kasyapa merasa ada yang kurang ketika dua istrinya masih bermuram muka karena satu hal. Bukan karena mereka kurang cantik atau memikat hati tetapi karena keduanya berebut perhatian Maruta dan keduanya belum memiliki keturunan.

Sedih hati mereka berbanding lurus dengan kebahagiaan istrinya yang lain. Toh bagi mereka berbagi cinta dalam satu atap bukan lagi hal yang baru. Pagi itu telinga mereka seperti kemasukan seekor semut suaranya berisik dan mengganggu acara mengupas bawang di dapur.

“Rasanya Maruta masih menginginkan satu atau dua anak lagi dariku” ucap Kudra dengan senyum matanya melirik Sukadra dan Kalinga yang diam merasakan semut-semut merayapi telinga.

Sabtu, 11 April 2015

Tahu Malu

Kalau yang berseteru itu dua anak kecil mudah saja, berikan masing -masing kayu dan biarkan keduanya saling memukul sekalian, hingga salah satunya menangis sekalian.

Dimana malunya mereka berada di panggung dan semua bisa leluasa melihat dan mengamatinya.

Jumat, 10 April 2015

RAHASIA

Pernahkah kamu terjebak dalam suatu masalah? Yang sedikit rumit, hingga kamu tak tahu hendak berbuat apa. Seperti buah simalakama, keputusanmu sangat mungkin berdampak bagi hubunganmu dengan seseorang. Bagaimana jika seseorang itu adalah seorang teman atau seseorang yang dekat?

Pernahkah kamu ada dalam situasi semacam itu? Jika pernah, apa yang akan kamu lakukan? Membukanya atau membiarkannya begitu saja.

Pernah baca jika kita sebaiknya menutupi keburukan seseorang, maka akan ditutupi keburukan kita sendiri. Apa beda keburukan, rahasia dan aib? Apakah beda dengan kesalahan atau kejahatan orang lain?

Sebelas Patriot

Judul: Sebelas Patriot
Penulis: Andrea Hirata
Terbitan: Juni 2011
Tebal: 112 halaman

Kamis, 09 April 2015

WANITA MOCHI

Annyeong haseo” −Apa kabar
Annyeong haseo. Mannaseo ban gapsseumnida” −Apa kabar, senang sekali bertemu dengan anda.

Wajahnya lembut seperti mochi, senyumnya manis dihias lesung pipit, dan rambut hitam tebal jatuh lembut di wajahnya. Keindahannya menandingi pemandangan pegunungan yang berlekuk hijau di kejauhan, segar membuat ingin kembali. Seandainya aku terus disini.

Di kejauhan pucuk teh menghijau bergerak seperti ombak, menebar hawa sejuk dan dingin di pegunungan. Daun teh di Hadong dekat sungai Seomjin, dipanen antara akhir bulan April dan awal bulan Mei. Perpaduan antara tumbuhan teh yang dibudidaya dan tumbuhan teh liar banyak dijumpai di pegunungan ini.

Berjalan diantara pohon teh kukira semudah yang kulihat di iklan televisi, seperti mudahnya memotong pucuk teh yang masih hijau itu. Bahkan dengan memamerkan senyum yang tampak damai. Ternyata tak semudah itu, kaki harus dilindungi dengan sepatu dan baju yang agak tebal karena beberapa kali ranting pohon teh itu melukai kulit. Belum lagi jika musim cenderung lembab, tanah merah tempat berpijak menjadi licin, tanaman teh yang kebetulan berada di lereng yang curam sehingga harus hati-hati dilalui. Salah-salah kita bisa terpeleset dan jatuh diantara semak pohon teh hingga bawah. Bayangkan pegalnya tangan memetik pucuk teh di kebun seluas itu, pegal-pegal pasti bagi yang tidak biasa melakukannya apalagi jika harus berdiri lama.

Ijjogeuro anjeusipsiyo”−silahkan duduk di sini.
Ne”−Ya

KERETA MENUJU JATINEGARA

-Agler, seorang pemuda yang menyeret koper di lorong kereta, yang tak tahu entah mau kemana di Jakarta-

Namanya tak mencerminkan mata sipitnya, kulit bersihnya dan kaca matanya. Aku mendengar nama dan ceritanya dari percakapan Agler dengan dua orang yang duduk di depannya. Masih muda mungkin baru dua puluhan tahun. Saat itu aku menatapnya dari ujung mata sambil menahan muntah dan mual yang menyerang. Bulan puasa terakhir, sehari lagi Idul Fitri di Jakarta.

Entah saat itu aku tertidur saat berbaring setengah badan di kereta menuju Jatinegara. Ketika aku terbangun kutatap dia sedang menatap keluar jendela. Wajah itu mengingatkanku pada seseorang dan sebuah perasaan aneh merayap di dada. Kupandangi wajahnya dari pantulan di kaca. Dia masih menatap keluar jendela, dan aku masih menatapnya, sengaja. Biasanya aku tak seberani ini. Aku tahu Agler pasti melihat wajahku dari pantulan kaca. Tak berapa lama, tangannya tampak mengusap – usap lembut kaca yang dipandanginya dengan dua atau tiga jarinya, aku tersentak kaget. Apakah aku ketahuan.

Aku terbangun untuk kedua kalinya. Di luar masih gelap, hanya lampu-lampu kecil yang berlarian di luar kaca. Sesekali nyala kembang api menerangi angkasa, biasanya aku suka menikmati nyala kembang api seperti itu. Dengan seseorang yang lain.

Waktu sahur hampir usai, ada yang memesan nasi goreng, mi goreng, atau membuka bekalnya. Aku melihatnya mengunyah roti manis dan sesekali meneguk botol mineral. Entah, dia masih saja suka menatap ke luar kaca yang gelap setelah lelah bercakap dengan dua orang tua di depannya. Dan aku masih menatap pantulan wajahnya di kaca itu. Sesekali dia membenahi kaca matanya. Dia suka menatap gelap di luar kaca? Atau ada sesuatu yang dia lihat di sana?

Kasihan dia tidak ada keluarga atau teman yang di kenalnya di Jakarta” gumam dua orang di depannya. Aku mengingatnya karena ucapan itu.

Memasuki stasiun Jatinegara, sedikit gelap masih terlalu pagi. Aku hendak mengemasi koperku, dan kulihat dirinya pun melakukan hal yang sama. Dia melewatiku dan dengan sangat sopan dia mencium tangan lelaki di sampingku. Padahal lelaki itu sejak dia masuk kereta tak bicara sepatah katapun padanya.

Rabu, 08 April 2015

Buku: Pintu

Judul: Pintu
Penulis: Fira Basuki
Penerbit: PT Grasindo
Cetakan: Juli 2004
Editor: A.Ariobimo Nusantara
Tebal: 157 halaman